Bagaimana dengan suara-suara yang mengganggu saat kita latihan? Terkadang, di suatu tempat retret, jika Anda berkonsentrasi terlalu kuat, Anda dapat mengobservasi apa yang dapat terjadi. Anda bisa begitu marahnya jika bahkan hanya karena pintu berderik, atau ada orang yang langkahnya terlalu berat di samping Anda, atau bernafas terlalu kencang. Anda mungkin akan melompat bangun dan berpikir, “Oh! Kamu mengganggu latihan saya!”
Apakah Anda mulai melihat betapa menggelikannya ini sebenarnya? Apa yang terjadi di sini adalah momen ini menghasilkan suara, dan ada suara, dan kemudian pikiran naik dan berkata, “Saya tidak suka ini. Ini seharusnya tak ada di sana. Saya ingin mengeluh ke seseorang, dan membuat mereka berhenti agar pikiran SAYA dapat tenang!” Yang sebenarnya terjadi adalah konsentrasi tidak seimbang dengan kewaspadaan. Konsentrasi terlalu kuat dan kewaspadaan terlalu lemah. Hahaha! Betapa gilanya itu, kan?
Jika Anda tidak dapat menerima apa yang terjadi di momen ini dengan pikiran seimbang maka akan ada penderitaan. Oke!
Jadi bagaimana? Saat ini ada suara. “Seseorang sedang berbicara!” Jadi? Tidak masalah selama Anda punya kewaspadaan dan ketenang-seimbangan di dalam pikiran Anda. Ketika ada keseimbangan di dalam pikiran Anda, jika ada suara, itu tidak masalah. Dan? Anda dapat melakukan meditasi pemaafan!
Ketika saya berada di Asia untuk mengikuti retret selama tiga bulan, mereka sedang mengebor sumur air yang berada tepat di luar ruang meditasi. Selama tiga bulan, mesin tua itu bekerja dari jam 8 pagi hingga 6 sore. Ini dapat terjadi, kan? Keributan tanpa henti! Sangat kencang dan menyebalkan, tapi itu hanyalah suatu bunyi. Ketidak-sukaan “saya” terhadap bunyi itu tidak akan mengubah bunyi itu menjadi berbeda.
Apakah Anda melihat di mana letak semua kemelekatan di contoh ini? Latihan ini adalah tentang menerima fakta bahwa ada bunyi di sini, dan tidak apa-apa bagi bunyi itu untuk ada di sini. Harusnya baik-baik saja, karena itulah yang ada di momen kini. Itulah kebenarannya [Dhamma]. Menerima momen kini adalah menerima Dhamma seperti apa adanya.
Kapanpun ada gangguan, maafkan gangguan itu terus menerus di dalam pikiran Anda. MAAFKAN. Tersenyum. Maafkan diri sendiri karena tidak mengerti. Inilah bagaimana kita bekerja dengan pemaafan di kehidupan sehari-hari. Saya memaafkan diri saya karena ingin hal-hal lebih sempurna daripada yang sudah ada. Saya memaafkan diri sendiri karena membuat kesalahan. Saya memaafkan diri sendiri karena marah, dan tidak menyukai ini atau itu. Sekarang kita melihat bahwa pemaafan bukan hanya satu kalimat, bisa banyak pernyataan. Kita dapat mengambil satu dari pernyataanpernyataan ini ke dalam latihan dan menggunakan mereka satu per satu.