Bab 3 - Kemelekatan

Satu kesalahan yang dilakukan begitu banyak orang adalah mereka menganggap: “Meditasi itu hanya saat meditasi duduk saja. Di waktu lain saya tidak perlu melakukan apapun, jadi saya bisa biarkan pikiran saya bertindak sesukanya seperti biasa.” Ini salah. Kita perlu memiliki pandangan: “Meditasi adalah Hidup, Hidup adalah Meditasi.” Sadarilah bahwa kemelekatan-kemelekatan pun ada dalam kehidupan sehari- hari, dan hanya karena Anda tidak sedang duduk bermeditasi tidak berarti kemelekatan-kemelekatan itu tidak ada. Tujuan melakukan meditasi adalah demi pertumbuhan pribadi. Meditasi adalah untuk melepaskan kebiasaan lama menderita (bhava) dan menggantikannya dengan mengembangkan pikiran yang penuh ketenang-seimbangan di dalamnya.

Semakin pikiran Anda menolak melakukannya, semakin perlu Anda melakukan meditasi ini. Karena penolakan dalam pikiran Anda menunjukkan letak kemelekatan Anda, dan itulah penyebab penderitaan. Meditasi ini bekerja lebih baik daripada cara lain dalam melepaskan kemelekatan, melepaskan dan merilekskan perasaan-perasaan keras (bhava) lama, melepaskan cara berpikir Anda tentang bagaimana dunia ini seharusnya, sehingga Anda bisa mulai menerima dunia ini apa adanya.

Pikiran Anda mungkin berkata, “Saya tidak suka itu! Saya tidak suka cara mereka berbicara tentang ini dan itu.” Tanyakan pada diri sendiri sekarang, “Siapa yang tidak suka? Siapa yang menghakimi dan menghujat? Siapa yang membesar-besarkan cerita? Siapa yang tertangkap oleh kemelekatan mereka?” Jawabannya adalah “Saya!”

Mungkin membantu pemahaman jika diberikan definisi apa itu kemelekatan. Kemelekatan adalah apapun—segala bentuk pikiran, perasaan, sensasi—yang kita ambil hati secara pribadi! Ketika kita pikir bentuk-bentuk pikiran atau perasaan-perasaan ini adalah “milik saya”, ini adalah “saya”, ini adalah “diri saya”, di saat itu pikiran telah melekat dan ini menyebabkan munculnya nafsu keinginan di dalam pikiran dan badan jasmani.

Nafsu keinginan selalu berwujud dalam bentuk ketegangan atau keketatan di dalam pikiran dan tubuh. Nafsu keinginan itu adalah pikiran “Saya suka” dan “saya tidak suka”—yang muncul dalam proses pikiran/tubuh setiap orang. Kemelekatan adalah kata lain bagi nafsu keinginan, dan itu adalah awal mula semua penderitaan. Ketika kita melihat bahwa semua yang muncul adalah bagian dari proses impersonal (tanpa diri/tanpa keterkaitan personal), maka kita mulai mengerti bagaimana rasanya melihat hal-hal dengan pikiran yang jernih dan cermat.

Mungkin ada orang mengatakan sesuatu tanpa ada niat buruk, dan Anda mendengarnya melalui kemelekatan Anda dan itu terdengar negatif. Inilah mengapa kita harus belajar bagaimana menjadi sadar tentang apa yang terjadi dalam hidup kita sepanjang waktu.

Ketika Anda selesai duduk bermeditasi selama 30 menit, atau 45 menit, atau satu jam dan mulai berjalan, apa yang dilakukan pikiran Anda? Melanglang buana seperti biasanya, memikirkan ini dan itu, memikirkan hal-hal tidak penting.

Kebanyakan orang mengira pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang muncul adalah milik kita sendiri, bahwa mereka bukan hanya pikiran sembarangan. Tapi kenyataannya, jika Anda memberi makan pada pikiran atau perasaan apapun dengan perhatian Anda, Anda membuatnya lebih besar dan kuat. Ketika Anda menyadari bahwa Anda menyebabkan diri sendiri menderita, Anda harus memaafkan diri sendiri karena melakukan itu.

Artinya mengatakan, “Saya memaafkan diri sendiri karena tidak mengerti. Saya sepenuhnya memaafkan diri saya.” Tentu saja pikiran Anda akan berkeliaran lagi dan berkata, “Ah, ini bodoh sekali. Ini bukan apa-apa. Ini tak nyata. Ini tidak benar-benar terjadi. Saya tak mau lakukan ini lagi.”

Setiap bentuk pikiran seperti itu adalah kemelekatan, bukan? Setiap bentuk pikiran mengandung kemelekatan di dalamnya, bukan? Setiap bentuk pikiran itu membuat Anda menderita, bukan?

Oleh karena itu, Anda harus mengenali bahwa Anda melakukan ini pada diri sendiri dan lepaskanlah bentuk-bentuk pikiran itu. Mereka hanyalah hal tak penting. Tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang Anda lakukan dan di mana Anda berada saat ini. Begitu Anda kenali hal ini, Anda maafkan diri sendiri karena tidak mengerti; karena Anda menyebabkan diri sendiri menderita; karena menyebabkan orang lain menderita. ANDA BENAR-BENAR MEMAAFKAN.

Perhatikan ketika Anda berjalan dari sini ke sana, apa yang dilakukan pikiran Anda? “Bersenandung. Memikirkan ini, memikirkan aku harus melakukan itu, saya harus berbicara dengan orang itu, dan saya harus melakukan ini.” Semua hal yang tak masuk akal!

Bukan berarti Anda tidak boleh merencanakan apa yang perlu Anda lakukan selanjutnya. Boleh. Tapi cukup lakukan sekali sebagai topik utama saat ini. Setelah Anda memutuskan apa rencana itu, Anda sudah tidak perlu memikirkannya lagi. Mengulanginya, memutar-mutar lagi; semua itu hanyalah bagian dari tendensi kebiasaan lama (dalam bahasa Pali bhava) Anda. Itu hanyalah bentuk-bentuk pikiran dan perasaan-perasaan lama yang terkondisi, dan menganggap mereka sebagai hal pribadi dan membuat Anda sendiri sengsara dan menderita.